anak kami
Edward Parahita Candrakumara Manumoyoso
Senin, 21 November 2011
Makin Sayang Adik
Tapi, ada yang bikin Edo makin gemas sama adik. Misalnya kalau adik ganggu Edo kalau lagi main balok.
Ya, Edo paling nggak suka kalo pas main balok diganggu. Lha adik Mita tuh paling suka ngerubuhin balok yang sudah dibangun sama Edo. Hehe...Tapi nggak lama kemudian, Edo sudah baikan lagi sama adik, kok. Kan adik masih belum tahu.
Adik Mita lucu banget. APalagi kalau dengerin musik, langsung joget-joget. Hehe...makanya, Edo tambah gemes sama adik.
Senin, 10 Oktober 2011
Jelang Empat Tahun
Tambah usia mestinya makin pintar donk. Iya,
Sayangnya, untuk berhitung, Edo masih suka bingung kalau angka lebih dari 20. Tapi, buat aku, itu perkembangan Edo yang cukup pesat.
Sekarang, Edo maunya melakukan sesuatunya sendiri. Misalnya, lepas baju, mengenakan baju, membawa barang-barangnya turun dari mobil, membereskan mainan, dan sebagainya.
Edo juga makin sayang sama adek Mita. Kalau adek Mita masukin mainan ke dalam mulut, Edo langsung teriak, ''Adek, itu kotor. Ada kumannya." Edo sekarang juga nggak marah kalau bangunan dari balok dihancurin dek Mita. Hehehe....
Sekarang, Edo hobi banget jadi guru. Sambil nulis di whiteboard, Edo pura-pura ngajarin muridnya menulis, membaca, berhitung, dan menggambar. Belum lagi, Edo suka ngajarin menyanyi dan bahasa Inggris. Tau nggak sih siapa muridnya? oma dan dek Mita.
''Good morning everybodyyy.....how are you today?'' gitu sapa
Edo anaknya sangat aktif. Seringkali bikin repot dan senewen banyak orang. Tapi, buat aku, ibunya, Edo anak yang istimewa.
Selamat Ulang Tahun ke-4, Edward Parahita Candrakumara
GBU
Ibu Edo
Senin, 26 September 2011
Libur Lebaran 3
Kalau ke Lawang, kan Edo sudah sering cerita tuh. Tapi kalau ke Blitar, ini pengalaman pertama. Dari Lawang, kami lewat Malang untuk ke Blitar. Waktu tempuhnya sekitar empat jam. Selain jauh, kondisi jalan juga agak padat karena bersamaan dengan mudik.
Setiba di Blitar, sekitar pukul 19.00, kami bermalam di rumah Eyang kung, saudara dari opa. Keesokan paginya, kami jalan-jalan keliling Kota Blitar. Wah, ternyata banyak tempat-tempat bersejarah di sana. Ada makam Bung Karno, Presiden RI pertama.
Selain itu, kami ke candi Penataran. Bangunan terdiri atas beberapa gugusan sehingga lebih tepat kalau disebut kompleks percandian. Lokasi bangunan terletak di lereng barat daya Gunung Kelud pada ketinggian 450 meter di atas permukaan air laut, di suatu desa yang juga bernama Panataran, kecamatan Nglegok, Blitar. Untuk sampai di lokasi percandian dapat di tempuh dari pusat kota Blitar ke arah utara yaitu kejurusan Makam Proklamator Bung Karno. Jarak dari kota sampai lokasi diperkirakan 12 km.
Sepulang dari Candi Penataran, kami ke pusat Kota Blitar untuk mencari jajanan khas Blitar, yaitu
Edo juga bawa oleh-oleh berupa foto-foto selama di Blitar loh.
Selasa, 30 Agustus 2011
Libur Lebaran 2
Halo, masih dalam rangka libur Lebaran nih. Edo dan dek Mita diajakin ibu berenang. Kali ini kami berenang di Club House perumahan Pondok Tjandra Indah. Meski sudah berkali-kali berenang, Edo masih nggak berani membenamkan kepala ke dalam air. Padahal, ibu udah melengkapi Edo dengan kacamata. Ini untuk kali pertama dek Mita diajakin berenang. Seneng banget loh dek Mita ketika digendong opa masuk ke dalam air. bbrrr....dingin....
Libur Lebaran
Ibu libur, Edo juga libur. Tapi kita di Surabaya aja.


Jumat, 22 Juli 2011
Bolos

Edo bolos?Iya bener, Edo bolos. Ceritanya, ibu harus liputan ke luar kota dengan menyewa kendaraan. Karena di rumah nggak ada yang mengantarkan Edo sekolah, akhirnya, ibu memutuskan untuk membawa Edo, Mita, dan oma untuk ikut ke luar kota. Toh membawa kendaraan sewa plus sopir dan liputannya juga nggak begitu lama.
Sampai di tempat liputan, masih terlalu pagi. Akhirnya, oma membawa Edo ke museum yang kebetulan dekat dengan tempat liputan ibu. Di sana, Edo mengetahui banyak kendaraan perang dan perlengkapannya. Kemudian, Edo ikut ibu liputan.
Sebenarnya ribet juga ngajak Edo liputan. Tapi, biarlah jadi pelajaran untu
k Edo kalau pekerjaan ibunya seperti itu.Setelah itu, Edo diajak ke Lawang. Di sana, Edo meluapkan kegembiraannya dengan bermain-main di kebun. Senangnya menghirup udara segar pegunungan.
Nah, meskipun bolos, Edo dapat belajar banyak hal.
Edo (berani) Sekolah
Tapi sayangnya, Edo masih belum mau ditinggal sama ibu. Ibu harus menunggu di dalam kelas. Haduh, ibu sempat stres. Sampai ibu sakit flu berat di awal tahun ajaran baru ini.
Edo masuk sekolah pukul 07.00. Jadi, sebelumnya harus sudah siap-siap. Akhirnya, ibu dibantu opa dan oma membereskan pekerjaan rumah tangga saat pagi. Ada yang mandiin Mita, mandiin Edo, nyiapin baju-baju, nyiapin sarapan, nyiapin bekal. Pokoknya, kalau pagi, sangat ribet.
Sudah ribet, Edo masih nggak mau ditinggal pergi dari kelas.
Akhirnya, di hari ketiga sekolah, ibu disuruh keluar oleh bu guru Eri. Edo menangis sejadi-jadinya. Pakai acara mukul-mukul pintu pula, nendang-nendang tembok. Haduh, ibu jadi nggak tega ngeliatnya. Tapi bu guru Eri meyakinkan ibu bahwa Edo baik-baik saja.
Ketika pulang, Edo dengan bangga mengatakan bahwa dia pintar karena nggak nangis waktu ditinggal ibu pada oma dan opanya. Hehe...
Keesokan harinya, sama. Ibu disuruh keluar sama bu guru Eri. Masih juga nangis. Tapi, lagi-lagi, ibu harus merelakan Edo untuk nangis di kelas. Tapi ketika pulang, Edo dengan ceria mengatakan dirinya pandai karena berani masuk kelas sendirian tanpa ibu.
Sepulang dari St Yusup, Edo masih melanjutkan ke Bimba. Edo suka sekali belajar di Bimba. Di Bimba Edo belajar membaca, menulis, dan berhitung.
Edo hebat! Pada pekan kedua, Edo nyaris tanpa menangis. Edo sudah berani masuk kelas dan bergaul dengan teman-temannya. Bahkan, ibu kini tak perlu menunggu di sekolah lagi. Ibu bisa pulang dan mengerjakan pekerjaan rumah yang belum kelar.
Yah, semua memang butuh proses. Biarlah Edo berproses sendiri dengan dunianya. Itulah Edo yang unik.