Senin, 21 November 2011

Makin Sayang Adik

Halo, makin hari Edo makin sayang sama adik. Apalagi, Adik Mita sekarang udah tambah gede. Makin ngerti diajak main. Adik Mita juga paling suka main-main sama Edo.
Tapi, ada yang bikin Edo makin gemas sama adik. Misalnya kalau adik ganggu Edo kalau lagi main balok.
Ya, Edo paling nggak suka kalo pas main balok diganggu. Lha adik Mita tuh paling suka ngerubuhin balok yang sudah dibangun sama Edo. Hehe...Tapi nggak lama kemudian, Edo sudah baikan lagi sama adik, kok. Kan adik masih belum tahu.

Adik Mita lucu banget. APalagi kalau dengerin musik, langsung joget-joget. Hehe...makanya, Edo tambah gemes sama adik.

Senin, 10 Oktober 2011

Jelang Empat Tahun

Tambah usia mestinya makin pintar donk. Iya, Edo juga gitu. Sekarang Edo sudah masuk TK A. Edo yang awalnya nggak berani sekolah, sekarang sudah bisa dilepas. Urusan membaca dan menulis, Edo sudah jago. Bener loh, sudah lancar membaca dan menulis. Ya, tapi memang harus dilatih terus.
Sayangnya, untuk berhitung, Edo masih suka bingung kalau angka lebih dari 20. Tapi, buat aku, itu perkembangan Edo yang cukup pesat.

Sekarang, Edo maunya melakukan sesuatunya sendiri. Misalnya, lepas baju, mengenakan baju, membawa barang-barangnya turun dari mobil, membereskan mainan, dan sebagainya.

Edo juga makin sayang sama adek Mita. Kalau adek Mita masukin mainan ke dalam mulut, Edo langsung teriak, ''Adek, itu kotor. Ada kumannya." Edo sekarang juga nggak marah kalau bangunan dari balok dihancurin dek Mita. Hehehe....

Sekarang, Edo hobi banget jadi guru. Sambil nulis di whiteboard, Edo pura-pura ngajarin muridnya menulis, membaca, berhitung, dan menggambar. Belum lagi, Edo suka ngajarin menyanyi dan bahasa Inggris. Tau nggak sih siapa muridnya? oma dan dek Mita.

''Good morning everybodyyy.....how are you today?'' gitu sapa Edo ke ''murid-murid'' nya. Kalau nggak ada yang menjawab, bisa lebih keras lagi suara Edo.

Edo anaknya sangat aktif. Seringkali bikin repot dan senewen banyak orang. Tapi, buat aku, ibunya, Edo anak yang istimewa.

Selamat Ulang Tahun ke-4, Edward Parahita Candrakumara
GBU


Ibu Edo


Senin, 26 September 2011

Libur Lebaran 3

Masih ada yang tersisa nih. Libur Lebaran kemarin, Edo dan keluarga tak lupa berkunjung ke rumah Iyut Waru untuk sungkem dengan semua keluarga di sana. Kemudian, opa ajak pergi ke Lawang dan ke Blitar.

Kalau ke Lawang, kan Edo sudah sering cerita tuh. Tapi kalau ke Blitar, ini pengalaman pertama. Dari Lawang, kami lewat Malang untuk ke Blitar. Waktu tempuhnya sekitar empat jam. Selain jauh, kondisi jalan juga agak padat karena bersamaan dengan mudik.
Setiba di Blitar, sekitar pukul 19.00, kami bermalam di rumah Eyang kung, saudara dari opa. Keesokan paginya, kami jalan-jalan keliling Kota Blitar. Wah, ternyata banyak tempat-tempat bersejarah di sana. Ada makam Bung Karno, Presiden RI pertama.
Selain itu, kami ke candi Penataran. Bangunan terdiri atas beberapa gugusan sehingga lebih tepat kalau disebut kompleks percandian. Lokasi bangunan terletak di lereng barat daya Gunung Kelud pada ketinggian 450 meter di atas permukaan air laut, di suatu desa yang juga bernama Panataran, kecamatan Nglegok, Blitar. Untuk sampai di lokasi percandian dapat di tempuh dari pusat kota Blitar ke arah utara yaitu kejurusan Makam Proklamator Bung Karno. Jarak dari kota sampai lokasi diperkirakan 12 km.
Sepulang dari Candi Penataran, kami ke pusat Kota Blitar untuk mencari jajanan khas Blitar, yaitu wajik klethik dan jenang. Setelah ibu tanya-tanya ke beberapa teman, ternyata yang cukup enak bikinan Ny Sanjaya. Wah, puas deh kami membeli makanan khas Blitar itu.Keluar dari Kota Blitar menuju Malang, kami melewati Bendungan Lahor dan Bendungan Karangkates. Wuah...seperti laut, yah. Pemandangannya bagus banget. Tak heran kalau banyak orang menjadikannya sebagai tempat wisata.Edo juga bawa oleh-oleh berupa foto-foto selama di Blitar loh.

Selasa, 30 Agustus 2011

Libur Lebaran 2


Halo, masih dalam rangka libur Lebaran nih. Edo dan dek Mita diajakin ibu berenang. Kali ini kami berenang di Club House perumahan Pondok Tjandra Indah. Meski sudah berkali-kali berenang, Edo masih nggak berani membenamkan kepala ke dalam air. Padahal, ibu udah melengkapi Edo dengan kacamata. Ini untuk kali pertama dek Mita diajakin berenang. Seneng banget loh dek Mita ketika digendong opa masuk ke dalam air. bbrrr....dingin....
Tapi sayang, ketika dek Mita masuk ke air, ibu nggak sempat motret. Malah Edo yang kebagian dipotret ketika sudah selesai berenang dan mau pulang. hehe

Libur Lebaran



Ibu libur, Edo juga libur. Tapi kita di Surabaya aja.
Kalau libur Lebaran, jalanan macet banget. Jadi, ibu bilang, mending di Surabaya. Tapi meski cuma di Surabaya, bukan berarti Edo dan dek Mita nggak pergi loh. Pada 28 Agustus lalu, Edo diajak nyekar ke Pohsarang, Kediri.
INi perjalanan untuk kali pertama untuk dek Mita yang sudah memasuki usia 8 bulan.

PERSIAPAN PERGI

Kata ibu, mengajak pergi dua anak balita membutuhkan banyak persiapan. Padahal, kami perginya nggak bermalam. Pertama, bawa bekal baju. Kemudian, camilan buah dan roti. Edo gampang laper sih. Ibu juga mudah lapar karena masih menyusui dek Mita. hehe....

Nah, persiapan yang paling banyak ya untuk dek Mita. Selain baju, mesti bawa popok sekali pakai (diapers) yang cukup banyak. Kata ibu, dek Mita harus ganti diapers setiap empat jam sekali untuk menjaga kebersihannya.
Dek Mita sekarang kan juga sudah makan bubur. Jadi, mesti bawa bubur yang sudah dimasak dari rumah plus buah pepaya sebagai campuran bubur. Sekarang memang banyak bubur instan yang tinggal diseduh air panas sebelum disantap. Tapi, dek Mita nggak suka makan bubur instan. Bayangin aja, ada tiga merek bubur instan yang sudah dicobakan
, tapi dia tetap nggak mau makan. Akhirnya, ibu dan oma mau nggak mau harus masakin bubur sendiri.
Untuk susu, berhubung dek Mita masih minum ASI, jadi nggak perlu lah bawa susu bubuk dan botol-botolnya. hehehe.....

LANCAR
Untungnya, kondisi jalan menuju KEdiri cukup lancar. Opa butuh waktu sekitar 4,5 jam untuk sampai Kediri. Sampai di Pohsarang, seperti rencana semula, kami nyekar dan doa di gua Maria yang terletak di
sebelah gereja batu Pohsarang. Sayangnya, dek Mita bobok. Jadi nggak bisa mejeng di kamera. Kalo Edo kan udah sering ke sana. Tapi masih aja doyan difoto.
Setelah nyekar, kami ke rumah saudara yang letaknya nggak jauh dari tempat ziarah.
Perjalanan dari Kediri ke Surabaya pun lancar sekali. Puji Tuhan.
















Jumat, 22 Juli 2011

Bolos













Edo bolos?Iya bener, Edo bolos. Ceritanya, ibu harus liputan ke luar kota dengan menyewa kendaraan. Karena di rumah nggak ada yang mengantarkan Edo sekolah, akhirnya, ibu memutuskan untuk membawa Edo, Mita, dan oma untuk ikut ke luar kota. Toh membawa kendaraan sewa plus sopir dan liputannya juga nggak begitu lama.

Sampai di tempat liputan, masih terlalu pagi. Akhirnya, oma membawa Edo ke museum yang kebetulan dekat dengan tempat liputan ibu. Di sana, Edo mengetahui banyak kendaraan perang dan perlengkapannya. Kemudian, Edo ikut ibu liputan.
Sebenarnya ribet juga ngajak Edo liputan. Tapi, biarlah jadi pelajaran untuk Edo kalau pekerjaan ibunya seperti itu.

Setelah itu, Edo diajak ke Lawang. Di sana, Edo meluapkan kegembiraannya dengan bermain-main di kebun. Senangnya menghirup udara segar pegunungan.

Nah, meskipun bolos, Edo dapat belajar banyak hal.

Edo (berani) Sekolah

Edo sekarang sudah berstatus sebagai siswa TK St Yusup. Tepat pada 11 Juli lalu, Edo mulai masuk sekolah.
Tapi sayangnya, Edo masih belum mau ditinggal sama ibu. Ibu harus menunggu di dalam kelas. Haduh, ibu sempat stres. Sampai ibu sakit flu berat di awal tahun ajaran baru ini.
Edo masuk sekolah pukul 07.00. Jadi, sebelumnya harus sudah siap-siap. Akhirnya, ibu dibantu opa dan oma membereskan pekerjaan rumah tangga saat pagi. Ada yang mandiin Mita, mandiin Edo, nyiapin baju-baju, nyiapin sarapan, nyiapin bekal. Pokoknya, kalau pagi, sangat ribet.
Sudah ribet, Edo masih nggak mau ditinggal pergi dari kelas.

Akhirnya, di hari ketiga sekolah, ibu disuruh keluar oleh bu guru Eri. Edo menangis sejadi-jadinya. Pakai acara mukul-mukul pintu pula, nendang-nendang tembok. Haduh, ibu jadi nggak tega ngeliatnya. Tapi bu guru Eri meyakinkan ibu bahwa Edo baik-baik saja.
Ketika pulang, Edo dengan bangga mengatakan bahwa dia pintar karena nggak nangis waktu ditinggal ibu pada oma dan opanya. Hehe...

Keesokan harinya, sama. Ibu disuruh keluar sama bu guru Eri. Masih juga nangis. Tapi, lagi-lagi, ibu harus merelakan Edo untuk nangis di kelas. Tapi ketika pulang, Edo dengan ceria mengatakan dirinya pandai karena berani masuk kelas sendirian tanpa ibu.

Sepulang dari St Yusup, Edo masih melanjutkan ke Bimba. Edo suka sekali belajar di Bimba. Di Bimba Edo belajar membaca, menulis, dan berhitung.

Edo hebat! Pada pekan kedua, Edo nyaris tanpa menangis. Edo sudah berani masuk kelas dan bergaul dengan teman-temannya. Bahkan, ibu kini tak perlu menunggu di sekolah lagi. Ibu bisa pulang dan mengerjakan pekerjaan rumah yang belum kelar.

Yah, semua memang butuh proses. Biarlah Edo berproses sendiri dengan dunianya. Itulah Edo yang unik.