
Ini tulisan yang ditulis oleh ibu Edo 10 hari sebelum Edo merayakan ultah ke-2 nya. Tapi baru diposting di blog sekarang karena terselip dan baru ditemukan. Maap ya Edo (gitu kata Ibu)....
Buat: Edward Parahita Candrakumara
Tak terasa, usia Edo kurang sebulan menginjak tahun kedua. Nakal, ndableg, mbetik-nya Edo tak mengurangi cintaku dan sayangku pada Edo. Kata papaku, memasuki usia dua tahun, anak memang banyak bereksplorasi. Jadi, biasa lah kalau Edo kadang susah dilarang, mau menangnya sendiri, aktivitasnya tinggi, dan cerewetnya minta ampun.
Sejak awal, Edo memang sudah menunjukkan gejala keaktifannya. Banyak gerak maupun ngoceh-ngoceh. Begitu sudah menginjak usia setahun, mulai deh terlihat jelas tingkahnya yang aktif. Begitu mampu melangkahkan kaki sendiri di usia ke-13 bulan, Edo hampir nggak mau digendong. Sukanya jalaaaaan terus. Capek? Jelas dong. Tapi, gimana lagi? Dulu, aku berharap Edo cepet bisa jalan. Begitu udah jalan, masa mau dilarang? (hehe...repot, ya?)
Setiap pagi, Edo bisa jadi ‘’jam weker’’ untuk semua orang di rumah. Bayangin, jam empat or jam lima pagi edo udah maksain semua orang rumah untuk meninggalkan kenyamanan ranjangnya. Edo minta diajak jalan-jalan pagi. Kadang, kalau bosan jalan-jalan, Edo minta dibonceng naik sepeda keliling kompleks. Ngantuk sih, tapi gimana lagi? Nggak ada pilihan. Ketimbang Edo nangis terus. Hehe...
Tak hanya itu aktivitas Edo. Edo suka niru apa yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya. Misalnya saja, membersihkan lantai pakai pel, sapu. Trus, setiap pagi, Edo juga doyan baca koran. Maklum, opanya kalau pagi hari setelah jalan-jalan bareng Edo, selalu menyempatkan diri membaca koran. Eh, Edo-nya juga ikut-ikutan. Padahal, kadang korannya terbalik. Hahaha...tapi kalau diingetin, nggak pernah mau. Ya udah, aku biarin aja Edo melakukan apa yang disuka. Toh, lama kelamaan Edo juga ngerti, kok.
Soal makan, aku sangat beruntung. Edo mau melahap makanan yang dimasak oleh mamaku. Makanan rumahan itu memang sangat disuka Edo. Menunya nggak terlalu aneh-aneh. Asal ada sayur, daging, telur, tempe, tahu, atau ikan, Edo doyan kok. Jadi, mama nggak terlalu bingung untuk makanan Edo. Tapi, yang hampir selalu ada untuk menu edo adalah nasi tim campur brokoli, wortel, tomat. Dagingnya bisa sapi atau ayam. Tak lupa, Edo juga pecinta buah, baik dibikin jus maupun langsung dimakan.
Sekitar dua bulan ini, edo hampir tiap pagi mengonsumsi telur ayam kampung rebus . Lahap banget kalau makan telur rebus itu. Jadi, sarapan pembuka Edo diawali dengan jus wortel/apel/tomat. Kemudian, telur rebus yang biasa dimakan bareng outmeal atau roti tawar. Beberapa jam kemudian, baru deh makan nasi tim yang lengkap dengan sayuran plus tahu/tempe dan daging.
Untuk susu, hanya selingan diberikan pada Edo. Paling banter, Edo menenggak susu formula tuh 4X200 ml/per hari plus ASI yang masih kuberikan hingga jelang usia dua tahun ini.
Aku juga cukup bersyukur Edo selalu sehat. Yah, orang tua mana sih yang mau anaknya sakit? Karena itu, aku berusaha sebisa mungkin menghindarkan Edo dari penyakit. Bahkan, sakit flu pun hampir tak pernah. Beberapa bulan lalu pernah sih sempet kena batuk. Tapi, sekitar tiga hari sudah sembuh.
Aktivitas Edo nggak cuma soal tingkah lakunya. Kebawelannya juga cukup memusingkan. Kosakatanya sudah cukup banyak. Setiap kali diajarkan kata-kata baru, dia langsung menyerapnya dengan baik. Cadel sih, cuma aku sangat paham apa yang dia maksud.
Angka 1-10 sudah cukup dikenalnya dengan baik. Dia pun bisa menyebutkan secara acak angka yang ditunjukkan padanya. Bahkan, ada beberapa angka yang dia sebut dalam bahasa Inggris, seperti five untuk lima, six untuk enam, dan ten untuk sepuluh. Namun untuk alphabet Edo masih belum begitu paham. Hanya beberapa huruf yang dia kenal, seperti A, B, C, (karena paling sering dilihat), W (karena pelat nomor mobil papaku berawal W), L, J, K (karena sering ngeliat pelat nopol mobilku).
Memasuki usia 1,5 tahun, Edo sudah bisa menyebutkan bagian tubuhnya. Mulai mata, hidung, telinga, pipi, mulut, gigi, tangan, kaki. Bahkan, kalau ada yang menanyakan, mana eye, nose, ear, mouth, hand, feet, Edo bisa menunjukkannya dengan benar.
Meski Edo memiliki banyak gambar, dia tetap ingin menggambar dengan spidol atau pensil. ’’Ibu, mau nulis,” katanya. Nulis artinya minta spidol atau pensil untuk menggambar. Begitu disodorkan alat tulis, dia minta kertas. Dia menggambar di kertas itu dan terkadang memintaku untuk menggambarkan bebek, mobil, pesawat, dan angka-angka. Haduuuh...aku kan nggak bisa menggambar. Akhirnya kugambar saja sebisaku. Tak cukup di kertas, Edo pun melihat peluang baru untuk menggambar apapun di tembok yang masih putih bersih. Hiyaaa...
Tak hanya hobi ’’menggambar’’. Edo juga hobi menyanyi. Ini yang baru bisa dilakukan Edo, kira-kira dua minggu lalu, Edo bisa menyanyi lagu Burung Kakaktua sendiri mulai awal sampai akhir. Tapi, kalau disuruh nyanyi Balonku, dia cuma nyanyi Balonku ada lima...eh, dilanjutkan dengan tekdung tekdung (pake nada lagu Burung Kakaktua). Trus, ada lagi lagu yang Edo suka, yaitu Ambilkan Bulan, Bu. Tapi, dianya cuma bisa kata-kata awalnya, Ambilkan bulan, bu...ambilkan bulan bu...nananaa...dengan nada gak jelas. Di lain waktu, Edo suka mendendangkan lagu-lagu yang aku sendiri nggak tahu asal muasal lagu itu (dengan kata lain ngawur).
Dalam kehidupan sehari-hari, tingkah laku Edo sering bikin orang lain gemas. Kalau ketemu dengan orang baru, Edo memang tak segan-segan menyapa, ’’Halooo...’’. Trus, kalau disuruh shakehand, dia pun langsung sigap memberikan tangannya untuk bersalaman dengan orang baru itu. Baju, sepatu, topi yang dikenakannya akan ditunjukkan pada orang baru itu dengan kata-kata baru atau bagus, biarpun barang-barang yang dipakainya itu sudah lawas atau pun udah jelek.
Pppfh...
Sebentar lagi Edo memasuki usia dua tahun. Apalagi keajaiban-keajaiban yang diberikan YANG KUASA pada Edo? Ah, aku begitu bersyukur pada-Nya diberi titipan yang begitu cerdas dan mengagumkan itu. Edo yang suka dipeluk, dicium, dan dimanja, bikin aku selalu kangen dia di setiap detik dan setiap nafasku.